Indonesia Terpopuler


Misteri Kehadiran Robert Tantular: Sri Mulyani Korban atau Taktik Distorsi?

Posted in KPK DAN CENTURY oleh holistikasaya pada Desember 14, 2009
Tags: , , ,

Tulisan ini saya unduh dari tulisan seseorang yang menamakan dirinya Faiz, yang mengomentari beritamerdeka.co.id yang berjudul Si “Robert” Itu Ternyata Marsilam Simanjuntak, pada Minggu, 13 Desember 2009, 16:41:24 WIB. Isinya tentang misteri Robert Tantular yang dikabarkan hadir dalam ruang rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), dinihari 21 November 2008 di lantai tiga Gedung Djuanda I, Departemen Keuangan, Jakarta.

Tulisan ini berupaya menggambarkan taktik distorsi yang dilakukan Sri Mulyani dan para penasehat hukum dan politiknya berkaitan dengan Kasus Bank Century. Dan taktik tersebut menemukan momentum saat Bambang Soesatyo masuk ke gelanggang lewat “temuan” rekaman rapat KSSK yang di dalamnya DIDUGA ada pembicaraan antara Bu Sri dengan Robert, kendati sangat durasi percakapan itu amat singkat. “Disinilah misteri Robert menemukan locusnya yang paling penting karena ia lantas diciptakan menjadi arena pertempuran antara “kebenaran” vs “kebathilan,” antara si korban (Bu Sri) dan si penjahat (Bamsat). Robert yang status aslinya adalah “dugaan” Bamsat, kini menjadi Yang Lain: dia menjadi otentik Robert Tantular, atau orang lain yang disangka Robert (Marsilam, Marwoto, dsb),” kata si pembuat tulisan ini.

Pembaca, apa komentar Anda tentang tulisan di atas ini? Apa pula komentar Anda tentang konferensi pers yang dilakukan Sri Mulyani Minggu kemarin? Apa komentar Anda tentang rekaman yang kini beredar luas di masyarakat tentang rapat dini hari tersebut?

Berikut ini tulisan lengkapnya:

THE MYSTERIOUS ROBERT

Misteri Robert yang misterius itu sejatinya bukanlah sesuatu yang misterius benar. Ia adalah sebuah taktik pembelokan (distortion) yang dilakukan oleh Bu Sri dan para penasehat hukum dan politiknya dalam rangka menyelamatkan beliau dari sasaran penyelidikan Centurygate dengan tujuan akhir (end game) yang jelas: Bu Sri tidak akan kena pemecatan atau pelengseran dari kursi Menteri Keuangan dan penghinaan terus menerus di depan publik Indonesia.

Sejak awal Bu Sri dan para penasehat hukum dan politiknya PASTI sudah memahami bahwa kalau skandal perampokan uang Rp 6,7 trilliun oleh Robert Tantular melalui Bank Century dibantu oleh oknum-oknum BI dan DepKeu ini diselesaikan secara politik, maka akan hancur-hancuran hasilnya buat beliau. Para penasehat Bu Sri seperti Pak Marsillam Simanjuntak, Wimar Witular dan para kampiun politik dan hukum pasti sudah tahu bahwa hanya melalui penyelesaian “HUKUM” saja Bu Sri akan dapat “diselamatkan” dan bahkan bisa jadi kasus itu tidak akan akan kemana-mana. Hanya dengan melalui proses “HUKUM” saja kasus ini akan dapat disulap atau dimetamorfosekan menjadi mirip skandal BLBI sebelumnya. Kalau Centurygate ini menjadi masalah politik, Bu Srilah yang paling vulnerable (rentan) karena beliau adalah “kaki Achilles” dari skandal ini, lagi-lagi secara politik. Bu Sri pasti akan jadi tumbal politik yang paling mudah dibanding yang lain, apalagi dibanding Pak Budiono dan Pak SBY! Benteng pelindung Bu Sri dalam hal ini paling-paling hanya IMF, World Bank, kaum korporat asing dan media nasional pro neo liberal seperti Tempo Group, Kompas Group, Detik.com. Jakarta Post dll. Parpol-parpol selain Demokrat umumnya “empet” sama Bu Sri, apalagi parpol Islam seperti PKS, PPP, PKB, dan PAN. Golkar sejatinya tidak terlalu pusing, tetapi perseteruan Bu Sri dengan Ical terlanjur berubah dari urusan pribadi menjadi urusan partai karena yang disebut terakhir itu jadi boss PG. PDIP, Gerindra dan Hanura yang sejak lama mengusung slogan “anti neolib” pasti bukan fans berat Bu Sri!

Maka para penasehat Bu Sri berusaha mencari celah agar Centurygate mogok di jalan, atau kalau toh berproses nanti, bisa diarahkan menjadi proses “hukum” saja. Paling-paling nanti Bu Sri akan diganjar dengan hukuman administratif dan teguran supaya lain kali lebih baik, bla.. bla.. bla.. Posisi Menteri tetap utuh dan she’ll live happily ever after. Nah, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba Bambang Soesatyo (Bamsat) muncul di depan rapat terbuka Pansus Centurygate dengan “temuan” rekaman rapat KSSK yang di dalamnya DIDUGA ada pembicaraan antara Bu Sri dengan Robert, kendati sangat durasi percakapan itu amat singkat. Bamsat, anggota DPR yang baru dan masih bersemangat tinggi, tentu saja ingin “temuan”nya segera dibuka dan minta didatangkan pula mereka yang diduga melakukan perbuatan tidak legal itu. Celakanya, pengungkapan dalam rapat terbuka Pansus yang semestinya urusan internal Pansus, lantas diberitakan media dan, hasilnya, all hell broke loose! Namanya saja media, kalau tidak melakukan spinning atau pemutaran untuk menarik perhatian audiens, pasti tak puas. Media lantas menyiarkan dan memperdalam pengungkapan Bamsat seolah-olah itu adalah temuan yang sudah “final” sehingga berubahlah “dugaan” menjadi “tuduhan”. Bamsat dan para anggota Pansus tidak membantu memberikan klarifikasi, tetapi malah bicara sendiri-sendiri membuat pembelaan diri dan kelompok masing-masing.

Serangan balik Bu Sri dkk dengan liehay menggunakan “kehebohan” yang dibuat media untuk membuat citra bahwa Pansus dan khususnya Bamsat telah melakukan fitnah, kriminalisasi, mencemarkan nama baik, you name it. Tim ahli Bu Sri segera mendeploy serangan demi serangan secara sistematis yang pada intinya membuat Bu Sri menjadi sosok korban konspirasi jahat semacam Bibit, Chandra, Prita, mBoh Minah dicampur jadi satu. Dengan wajah yang disetel memelas tiap hari (lengkap dengan mata yang redup seperti tak tidur seminggu), Bu Sri tampil sebagai sang victim sedang Pansus dan khususnya Bambang, menjadi sang penjahat. Tak kurang, facebook membela Bu Sri pun dibuat dan segera menjadi ngetop dalam semalaman. Berita dotcom (khususnya di detik.com) penuh dengan puja-puji, rasa iba, dan doa kepada Bu Sri. Sebaliknya, Bamsat lantas menjadi sosok yang mewakili seluruh kebrengsekan dan kejahatan yang ada di DPR, parpol, politisi, dsb.

Disinilah misteri Robert menemukan locusnya yang paling penting karena ia lantas diciptakan menjadi arena pertempuran antara “kebenaran” vs “kebathilan,” antara si korban (Bu Sri) dan si penjahat (Bamsat). Robert yang status aslinya adalah “dugaan” Bamsat, kini menjadi Yang Lain: dia menjadi otentik Robert Tantular, atau orang lain yang disangka Robert (Marsilam, Marwoto, dsb). Tak penting benar untuk menunggu merunut siapa sejatinya Robert ini melalui proses rapat di Pansus. Bu Sri dkk langsung menciptakan preemptive counter attack, bahwa Bamsat (dan Pansus) telah melakukan fitnah. Tak penting benar apakah betul Bamsat sudah menuduh atau baru menduga, yang penting serangan blietzkrieg harus segera dilakukan dan media pun dengan bersemangat menjadi bagian integral di dalam strategi ini! Maka direkayasalah sebuah konferensi Pers oleh Wimar Witular yang menampilkan bukan saja bantahan Bu Sri dkk ad nauseam, tetapi juga termasuk audio dan video rekaman rapat KSSK lengkap dengan tour utk wartawan ke ruang-ruang kantor dimana rapat berlangsung dan Robert Tantular pernah berada. Sebuah atraksi teatrikal yang mencoba menampilkan historisitas yang otentik dan meningkatkan kredibilitas Bu Sri dkk, walaupun sejatinya tak punya relevansi apa pun untuk pengungkapan skandal!

Jadi Robert menjadi misterius bukan karena ia adalah sesuatu yang susah ditemukan atau sosok yang rahasia. Ia misterius karena dibuat seperti itu, sebagi sebuah instrument bagi distorsi dan manipulasi realitas dan merebut simpati publik. Ia adalah alat ampuh untuk membalik status epistemologis Bu Sri dari salah satu aktor utama Centurygate menjadi korban fitnah “yang keji”. Sebaliknya Bamsat dan pansus Centurygate, diproyeksikan sebagai sang penjahat dan pemfitnah yang tak boleh dipercaya rakyat! Dengan strategi distorsi ini Bu Sri dkk berharap akan muncul tekanan publik agar proses pemeriksaan Centurygate tidak lagi dipercayakan kepada para politisi Senayan yang tidak punya etika dan kejujuran itu, tetapi dibawa ke ranah HUKUM yang akan lebih adil. Siapakah hukum yang adil itu? Tentu saja adalah mereka yang pernah mencoba mengadili Bibit dan Chandra dan Prita dan Bu Minah. Hukum yang benar-benar Pasti, bagi Bu Sri dkk, adalah Keputusan yang membiarkan Anggodo, Anggoro, dan para penjahat lain lepas bebas dan menikmati hasil kejahatan mereka.

Baca juga: Transkrip Rekaman Rapat Dini Hari KSSK

Baca Juga: Misteri Robert Muncul Dini Hari

Misteri Robert yang misterius itu sejatinya bukanlah sesuatu yang misterius benar. Ia adalah sebuah taktik pembelokan (distortion) yang dilakukan oleh Bu Sri dan para penasehat hukum dan politiknya dalam rangka menyelamatkan beliau dari sasaran penyelidikan Centurygate dengan tujuan akhir (end game) yang jelas: Bu Sri tidak akan kena pemecatan atau pelengseran dari kursi Menteri Keuangan dan penghinaan terus menerus di depan publik Indonesia.

Sejak awal Bu Sri dan para penasehat hukum dan politiknya PASTI sudah memahami bahwa kalau skandal perampokan uang Rp 6,7 trilliun oleh Robert Tantular melalui Bank Century dibantu oleh oknum-oknum BI dan DepKeu ini diselesaikan secara politik, maka akan hancur-hancuran hasilnya buat beliau. Para penasehat Bu Sri seperti Pak Marsillam Simanjuntak, Wimar Witular dan para kampiun politik dan hukum pasti sudah tahu bahwa hanya melalui penyelesaian “HUKUM” saja Bu Sri akan dapat “diselamatkan” dan bahkan bisa jadi kasus itu tidak akan akan kemana-mana. Hanya dengan melalui proses “HUKUM” saja kasus ini akan dapat disulap atau dimetamorfosekan menjadi mirip skandal BLBI sebelumnya. Kalau Centurygate ini menjadi masalah politik, Bu Srilah yang paling vulnerable (rentan) karena beliau adalah “kaki Achilles” dari skandal ini, lagi-lagi secara politik. Bu Sri pasti akan jadi tumbal politik yang paling mudah dibanding yang lain, apalagi dibanding Pak Budiono dan Pak SBY! Benteng pelindung Bu Sri dalam hal ini paling-paling hanya IMF, World Bank, kaum korporat asing dan media nasional pro neo liberal seperti Tempo Group, Kompas Group, Detik.com. Jakarta Post dll. Parpol-parpol selain Demokrat umumnya “empet” sama Bu Sri, apalagi parpol Islam seperti PKS, PPP, PKB, dan PAN. Golkar sejatinya tidak terlalu pusing, tetapi perseteruan Bu Sri dengan Ical terlanjur berubah dari urusan pribadi menjadi urusan partai karena yang disebut terakhir itu jadi boss PG. PDIP, Gerindra dan Hanura yang sejak lama mengusung slogan “anti neolib” pasti bukan fans berat Bu Sri!

Maka para penasehat Bu Sri berusaha mencari celah agar Centurygate mogok di jalan, atau kalau toh berproses nanti, bisa diarahkan menjadi proses “hukum” saja. Paling-paling nanti Bu Sri akan diganjar dengan hukuman administratif dan teguran supaya lain kali lebih baik, bla.. bla.. bla.. Posisi Menteri tetap utuh dan she’ll live happily ever after. Nah, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba Bambang Soesatyo (Bamsat) muncul di depan rapat terbuka Pansus Centurygate dengan “temuan” rekaman rapat KSSK yang di dalamnya DIDUGA ada pembicaraan antara Bu Sri dengan Robert, kendati sangat durasi percakapan itu amat singkat. Bamsat, anggota DPR yang baru dan masih bersemangat tinggi, tentu saja ingin “temuan”nya segera dibuka dan minta didatangkan pula mereka yang diduga melakukan perbuatan tidak legal itu. Celakanya, pengungkapan dalam rapat terbuka Pansus yang semestinya urusan internal Pansus, lantas diberitakan media dan, hasilnya, all hell broke loose! Namanya saja media, kalau tidak melakukan spinning atau pemutaran untuk menarik perhatian audiens, pasti tak puas. Media lantas menyiarkan dan memperdalam pengungkapan Bamsat seolah-olah itu adalah temuan yang sudah “final” sehingga berubahlah “dugaan” menjadi “tuduhan”. Bamsat dan para anggota Pansus tidak membantu memberikan klarifikasi, tetapi malah bicara sendiri-sendiri membuat pembelaan diri dan kelompok masing-masing.

Serangan balik Bu Sri dkk dengan liehay menggunakan “kehebohan” yang dibuat media untuk membuat citra bahwa Pansus dan khususnya Bamsat telah melakukan fitnah, kriminalisasi, mencemarkan nama baik, you name it. Tim ahli Bu Sri segera mendeploy serangan demi serangan secara sistematis yang pada intinya membuat Bu Sri menjadi sosok korban konspirasi jahat semacam Bibit, Chandra, Prita, mBoh Minah dicampur jadi satu. Dengan wajah yang disetel memelas tiap hari (lengkap dengan mata yang redup seperti tak tidur seminggu), Bu Sri tampil sebagai sang victim sedang Pansus dan khususnya Bambang, menjadi sang penjahat. Tak kurang, facebook membela Bu Sri pun dibuat dan segera menjadi ngetop dalam semalaman. Berita dotcom (khususnya di detik.com) penuh dengan puja-puji, rasa iba, dan doa kepada Bu Sri. Sebaliknya, Bamsat lantas menjadi sosok yang mewakili seluruh kebrengsekan dan kejahatan yang ada di DPR, parpol, politisi, dsb.

Disinilah misteri Robert menemukan locusnya yang paling penting karena ia lantas diciptakan menjadi arena pertempuran antara “kebenaran” vs “kebathilan,” antara si korban (Bu Sri) dan si penjahat (Bamsat). Robert yang status aslinya adalah “dugaan” Bamsat, kini menjadi Yang Lain: dia menjadi otentik Robert Tantular, atau orang lain yang disangka Robert (Marsilam, Marwoto, dsb). Tak penting benar untuk menunggu merunut siapa sejatinya Robert ini melalui proses rapat di Pansus. Bu Sri dkk langsung menciptakan preemptive counter attack, bahwa Bamsat (dan Pansus) telah melakukan fitnah. Tak penting benar apakah betul Bamsat sudah menuduh atau baru menduga, yang penting serangan blietzkrieg harus segera dilakukan dan media pun dengan bersemangat menjadi bagian integral di dalam strategi ini! Maka direkayasalah sebuah konferensi Pers oleh Wimar Witular yang menampilkan bukan saja bantahan Bu Sri dkk ad nauseam, tetapi juga termasuk audio dan video rekaman rapat KSSK lengkap dengan tour utk wartawan ke ruang-ruang kantor dimana rapat berlangsung dan Robert Tantular pernah berada. Sebuah atraksi teatrikal yang mencoba menampilkan historisitas yang otentik dan meningkatkan kredibilitas Bu Sri dkk, walaupun sejatinya tak punya relevansi apa pun untuk pengungkapan skandal!

Jadi Robert menjadi misterius bukan karena ia adalah sesuatu yang susah ditemukan atau sosok yang rahasia. Ia misterius karena dibuat seperti itu, sebagi sebuah instrument bagi distorsi dan manipulasi realitas dan merebut simpati publik. Ia adalah alat ampuh untuk membalik status epistemologis Bu Sri dari salah satu aktor utama Centurygate menjadi korban fitnah “yang keji”. Sebaliknya Bamsat dan pansus Centurygate, diproyeksikan sebagai sang penjahat dan pemfitnah yang tak boleh dipercaya rakyat! Dengan strategi distorsi ini Bu Sri dkk berharap akan muncul tekanan publik agar proses pemeriksaan Centurygate tidak lagi dipercayakan kepada para politisi Senayan yang tidak punya etika dan kejujuran itu, tetapi dibawa ke ranah HUKUM yang akan lebih adil. Siapakah hukum yang adil itu? Tentu saja adalah mereka yang pernah mencoba mengadili Bibit dan Chandra dan Prita dan Bu Minah. Hukum yang benar-benar Pasti, bagi Bu Sri dkk, adalah Keputusan yang membiarkan Anggodo, Anggoro, dan para penjahat lain lepas bebas dan menikmati hasil kejahatan mereka.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: