Indonesia Terpopuler


Lumpur Lapindo Difilmkan Bule Berjudul Mud Max


Sebuah Film dokumenter tentang Lumpur Lapindo di Sidoarjo dibuat orang asing (bule). Judulnya:  Mud Max: Investigative Documentary -Sidoarjo Mud Volcano Disaster. Sutradara film tersebut Gary Hayes mengatakan, tujuan pembuatan film itu untuk menunjukkan fakta-fakta lumpur lapindo dari semua sisi. Film ini akan membiarkan penonton memutuskan sendiri apa yang menyebabkan terjadinya letusan lumpur tersebut.

Hayes  ingin membuat sebuah dokumenter yang mewakili kegetiran yang harus dihadapi warga Indonesia. “Mereka adalah penduduk kawasan paling banyak gunung merapi di dunia,” ujarnya dalam sebuah rilis, baru-baru ini.

Pemutaran perdana ‘Mud Max’ ini diawali di AS dan langsung disusul pemutaran perdananya untuk kawasan Asia Pasifik. Yakni di Museum Seni Kontemporer Sydney, Australia pada 13 Februari 2010 lalu.

Dokumenter yang diproduksi selama dua setengah tahun oleh Immodicus SA merupakan hasil kerjasamanya dengan Universitas Arizona State, School of Earth and Space Exploration.

‘Mud Max’ meneliti bencana letusan lahar lumpur pada Mei 2006 di Sidoarjo, Jawa Timur, yang kemudian dikenal dengan LUSI. Film ini juga meneropong kehancuran ekonomi, sosial dan politik yang turut gempar akibatnya.

Di zaman sejarah modern seperti sekarang ini jarang sekali terjadi peristiwa geofisik yang mencetuskan begitu banyak kontroversi maupun analisis serta opini cendikiawan yang terpolarisasi akibat suatu peristiwa alam seperti ini.

Dalam pembuatan ‘Mud Max’, para peneliti menggali analisis dan opini dari berbagai sumber. Di antaranya para ahli geologi, ahli pemboran dan ilmuwan lainnya. Mereka mengeksplorasi segala sudut fakta dari peristiwa tragis yang hingga kini masih berlangsung, termasuk konsekuensi ilmiah, ekonomis dan kemanusiaan yang ditimbulkannya.

Sejumlah ilmuwan dari berbagai penjuru dunia menyakini penyebab lumpur LUSI adalah gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dua hari sebelumnya. Namun ada juga yang menyalahkan kegiatan pemboran sumur gas alam di dekat lokasi luapan lumpur sebagai penyebabnya.

Berbagai cara telah diupayakan untuk menghindari ranjau-ranjau politik yang mengintari investigasi resmi menyangkut letusan ini. Namun melalui proses pencarian fakta, para peneliti ‘Mud Max’ telah menemukan dokumen-dokumen yang dapat menunjukkan adanya upaya yang berusaha mengecohkan arah berlangsungnya penelitian.

Pada awalnya kesalahan hanya ditunjukkan ke perusahaan pemboran Lapindo Brantas. Melalui surat yang dibocorkan ke sebuah media dalam negeri oleh mitra usaha Lapindo, PT Medco Energi.

Dalam surat tersebut, Medco menyatakan Lapindo lalai karena tidak menggunakan casing baja pada bagian tertentu di lubang sumur sehingga menyebabkan terjadinya luapan tersebut. Medco juga menyampaikan wanti-wanti kepada Lapindo akan konsekuensi yang dapat terjadi.

Namun ‘Mud Max’ juga menyingkap notulen rapat para pemegang saham yang berkumpul 11 hari sebelum terjadi letusan. Ketika itu, ketiga pemegang saham, Lapindo Brantas, Medco Energi dan Santos sepakat bahwa casing tidak dibutuhkan pada kedalaman 8.500 kaki. Tudingan Medco mengenai masalah casing itulah yang menjadi penyulut anggapan bahwa LUSI disebabkan oleh pemboran.

Di itu samping para produser menemukan sebuah dokumen berupa ringkasan laporan penelitian yang diterbitkan pada 14 Juni 2006 oleh pemerintah Indonesia. Isinya menunjuk sebuah tim investigasi independen untuk meneliti luapan lumpur Sidoarjo.

Dokumen ini menyatakan bahwa metoda pemboran yang dilakukan di lokasi pemboran Banjar Panji-1 telah berlangsung dengan wajar, benar, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Yang menjadi kontroversi, tak lama setelah mengeluarkan laporan tersebut, pimpinan tim investigasi, Dr Rudi Rubiandini, berbalik menyalahi penemuan tim investigasinya sendiri.

Setelah pemutaran perdana di Museum Seni Kontemporer, para ahli dari Universitas Arizona State (ASU) – School of Earth and Space Exploration akan menjadi tuan rumah bagi simposium mengenai isu ini. Ilmuwan terkemuka dari Universitas Oslo, Universitas New South Wales dan Universitas Nasional Australia akan hadir dalam simposium tersebut.

Siapa ingin nonton? (dirangkum dari inilah.com)

2 Tanggapan to 'Lumpur Lapindo Difilmkan Bule Berjudul Mud Max'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'Lumpur Lapindo Difilmkan Bule Berjudul Mud Max'.

  1. muhammadcank said,

    slam knal..
    ini prtanda indonesia blum mampu mmbuat film ttg tema bncan dlam ngeri…
    shingga diambil ma orang barat….

  2. HARDI PRASETYO said,

    Rekan-rekan sekalian yang saya hormati dan banggakan.
    Saya kebetulan ikut menyaksikan pemutaran film Mud Max di Museum Sydney yang berhadapan langsung dengan Gedung Opera Sydney, yang terkenal tersebur.
    1) Saya sepakat film ini mengajak penonton tidak hanya tercebak pada kontrobersi penyabab dan pemicu Lusi, tapi yang lebih melihat ke depan;
    2) Film ini juga memberikan early warning kembali (sudah sering didengungkan) bahwa Indonesia dihadapkan pada kondisi alami ancaman bencana alam/bencana geologi seperti gempa dan lumpur panas;
    3) Tersirat sulitnya menuntaskan film dokumenter ini, karena di dalamnya mencakup aspek teknik,ekonomi, sosial dan politik;
    4) Saya sangat mendorong Mux Max sebagai momentum membawa bencana Lusi menjadi pemanfaatannya ke depan, antara lain:
    a) Semburan Lupsi yang terdahsyat di dunia, dijadikan laboratorium alam fenomena gunung lumpur aktif (active mud volcano); b) Mud Volcano Lusi yang saat ini telah berkembang sebagai Danau Lupsi, khususnya Pusat Semburan dengan Kick menyerupai ‘Geyser’ dijadikan situs dunia untuk wisatasan analogi dengan Yellog Stone National Park; c) pengoperasian kapal-kapal keruk untuk menanggulangi semburan dan luapan Lupsi hanya satu-satunya didunia, sehingga menambah daya tarik yang unik; c) Lupsi dapat dijadikan sebagai salah satu pengobatan dan kecantikan (spa); d) Tanggul yang melingkari Danau sekitar 10 Km, bisa dijadikan track lari 10 km; e) Kali Porong yang telah dinormalisasi dinding utara&selatan dapat digunakan sebagai arena lomba cano, relly spped boad, lomba perahu hias; f) Muara Kali Porong yang telah diperdalam dan menghasilkan PulauBaru seluas 80 hektar dimanfaatkan untuk perlindungan zona pantai, lokasi pusat penelitian zona pantai, budidaya perikanan, wisatawan “Tanjung Lumpur’ dan lain-lain.
    Fakta dan Realitas yang harus kita terima bahwa Lusi telah berkembang menjadi MudVolcano aktif yang terdahsyat di dunia, SULIT DIHENTIKAN, seingga berdasarkan perhitungan batuan sumber dan kecepatan semburan sebesar 90.000 m3/hari menunjukkan kisaran 24-35 tahun. Sehingga visi ke depan harus terhadapat harmoniasi antara Kekuatan Fenonomen alam mud volcano yang berasal dari dalam bumi, dan upaya manusia untuk menanggulanginya, termasuk mengembalikan sendi-sendi kehidupan warga di sekitarnya dan menciptakan nilai tambah.
    Film Mud Max memberikan learning process dan introspeksi bahwa Film yang masih diselimuti kontroversi ilmiah dan nonteknis dengan rasio kesulitan tinggi dalam pembuatannya di luar negeri (27 bulan), sebagai pemicu tanpa malu-malu kita sebagai bangsa Indonesia Juga Harus Membuatnya sesuai dengan arah yang akan ditujuk secara MANDIRI.
    Menghadapi realitas di atas, marilah kita semua menyatukan Doa agar Bencana Lumpur Panas Sidoarjo yang sudah hampir memasuki Tahun ke empat dapat ditangani dan ditanggulangi sebaik-baiknya, dengan harapan semoga TUHAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK UNTUK WARGA YANG TERDAMPAK DAN UNTUK INDONESIA YANG TERUS DILANDA BENCANA ALAM.
    SalamHormat
    Hardi Prasetyo
    Juli 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: