Indonesia Terpopuler


Hitler Mati di Surabaya Perlu Diperdalam


Belakangan ini muncul kembali spekulasi bahwa Adolf Hitler, tokoh Jerman yang menjadi dalang pembantaian lebih 2 juta orang di Eropa meninggal di Surabaya dan dimakamkan di TPU Ngagel (Lihat beritanya di sini). Spekulasi ini berdasarkan kesaksian seorang dokter lulusan UI dr. Sosrohusodo .

Namun ahli sejarah tidak berani memastikan apakah makam dr Poch di TPU Ngagel itu  makam Hitler. Namun, kemungkinan ada bahwa yang disebut sebagai dr Poch itu adalah Hitler. “Kita harus lacak lebih dulu apakah pernah ada orang Nazi yang lari ke Indonesia setelah kekahan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II,” ujar Dr Asvi Warman Adam, ahli sejarah yang juga peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ketika dihubungi Harian Surya, Selasa (23/2).

Asvimengatakan tulisan di media yang mengaitkan sosok Poch dengan Hitler adalah suatu bentuk sejarah populer. “Sejarah populer itu bukan sejarah ilmiah. Sebab, jika sejarah ilmiah, itu tidak cukup hanya mencatat kesaksian seseorang. Harus dilengkapi dengan bukti-bukti,” jelas Asvi.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Basis Susilo, ragu dengan temuan terakhir jika makam Hitler di TPU) Ngagel. Namun, dia tidak menolak ataupun membantah dugaan yang ada.

“Sebab di dalam politik, kemungkinan kemungkinan bisa terjadi,” kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair ini.

Menurutnya, pasca kekalahan Nazi di Jerman, banyak anak buah Hitler lari ke luar negeri. Dia menyebut sejumlah negara di Amerika Latin menjadi lokasi pelarian anak buah Hitler.

Namun ke mana Hitler saat itu? Basis juga masih ragu. Pengetahuannya juga minim terkait hal ini.

Selama ini, kata Basis, keterangan yang mengemuka menyebutkan jika Hitler dikremasi setelah ditemukan tewas. Namun dia sanksi apakah kultur orang Jerman mengenal kremasi.

Sementara itu tentang temuan tengkorak itu juga harus diperdalam dalam analisa antropologi ragawi. Karena alasan itu, kata Basis, maka dugaan-dugaan jika Hitler lari dan tiba ke Sumbawa Besar, berganti nama, dan meninggal di Surabaya, masih terbuka. (harian surya)

erita bahwa makam pemimpin Jerman yang bengis, Adolf Hitler, berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel, Surabaya, menjadi sorotan kalangan akademisi. Ahli sejarah yang dihubungi Surya tidak berani memastikan ketika ditanya apakah makam dr Poch di TPU Ngagel itu sebagai makam Hitler. Namun, kemungkinan ada bahwa yang disebut sebagai dr Poch itu adalah Hitler, dan dengan demikian makam di TPU Ngagel itu juga bisa jadi makam Hitler –yang tercatat dalam sejarah telah membantai lebih 2 juta orang di Eropa.“Kita harus lacak lebih dulu apakah pernah ada orang Nazi yang lari ke Indonesia setelah kekahan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II,” ujar Dr Asvi Warman Adam, ahli sejarah yang juga peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ketika dihubungi Surya, Selasa (23/2).

Asvi, yang mendapat gelar doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en S. Sociales, Paris, Prancis pada 1990, mengatakan tulisan di media yang mengaitkan sosok Poch dengan Hitler adalah suatu bentuk sejarah populer. Yaitu suatu cerita sejarah yang menarik untuk diikuti.

Dia juga mendengar cerita tentang seorang dokter Indonesia mengenai dr Poch yang dikaitkan dengan Hitler.

“Sejarah populer itu bukan sejarah ilmiah. Sebab, jika sejarah ilmiah, itu tidak cukup hanya mencatat kesaksian seseorang. Harus dilengkapi dengan bukti-bukti,” jelas Asvi.

Seperti diberitakan Surya, Selasa (23/2), dari kesaksian lewat tulisan dr Sosrohusodo, seorang lelaki bernama dr Poch yang dikenalnya di Sumbawa Besar pada tahun 1960, diyakininya sebagai Hitler di masa tuanya.

Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal. Dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.Kemudian, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul.

Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran Hilter di masa tuanya –yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer (sebutan populer Hitler, yang berarti pemimpin)

Kemudian, perkembangan terbaru menunjukkan, ahli arkeologi yang juga dokter ahli tulang asal AS, Nick Belllantoni meragukan tulang tengkorak berlubang yang disimpan pihak miilter Rusia di Moskow adalah milik Hitler.

Keraguan Nick itu, yang dipublikasikan pada September lalu, didasarkan pada penelitiannya atas tengkorak tersebut melalui metode DNA. Bellatoni lantas mengungkapkan hasil penelitiannya tersebut dalam acara dokumenter History Channel berjudul Hitler’s Escape (Pelarian Hitler), yang dikutip oleh Koran Inggris Daily Telegraph.

Selama ini, dunia banyak meyakini bahwa tengkorak Hitler asli disimpan di sebuah museum di Moskow. Hitler sendiri disebut mati bunuh diri di persembunyian bawah tanahnya (bungker) di Berlin, Jerman, dengan istrinya Eva Braun. Itu dilakukan setelah pasukan Jerman kalah di mana-mana dari pasukan Sekutu dan Uni Soviet (sekarang Rusia, red) dalam Perang Dunia II, yang berakhir tahun 1945.

Hasil penelitian Nick itu menghidupkan lagi teori persengkokolan bahwa Hitler sebetulnya tidak mati pada tahun 1945. Abu jenazah yang ditemukan tentara Soviet di bungker di Berlin itu sebetulnya bukan abu Hitler tetapi kembarannya.

Hitler diduga melarikan diri ke Amerika Selatan dan baru mati di usia tua. Ada yang menyebut pula Hitler meninggal di Brasil, Argentina, India, dan bahkan Indonesia.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Basis Susilo, ragu dengan temuan terakhir jika makam Hitler di TPU) Ngagel. Namun, dia tidak menolak ataupun membantah dugaan yang ada.

“Sebab di dalam politik, kemungkinan kemungkinan bisa terjadi,” kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair ini.

Menurutnya, pasca kekalahan Nazi di Jerman, banyak anak buah Hitler lari ke luar negeri. Dia menyebut sejumlah negara di Amerika Latin menjadi lokasi pelarian anak buah Hitler.

Namun kemana Hitler saat itu? Basis juga masih ragu. Pengetahuannya juga minim terkait hal ini.

Selama ini, kata Basis, keterangan yang mengemuka menyebutkan jika Hitler dikremasi setelah ditemukan tewas. Namun dia sanksi apakah kultur orang Jerman mengenal kremasi.

Sementara itu tentang temuan tengkorak itu juga harus diperdalam dalam analisa antropologi ragawi. Karena alasan itu, kata Basis, maka dugaan-dugaan jika Hitler lari dan tiba ke Sumbawa Besar, berganti nama, dan meninggal di Surabaya, masih terbuka.nuca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: